Showing posts with label band. Show all posts
Showing posts with label band. Show all posts

Monday, 3 August 2015

Tea Mate: Cinta dari (Dua) Cangkir Teh

Kekuatan sebuah musik.
Sebaris baitnya aja kalo ngga ngebawa kita ke masa sekarang yang lagi hepi/sedih, kadang suka melempar kita ke memori yang lalu-lalu gitu. Sama halnya kayak foto. Padahal cuma selembar, tapi bisa menyajikan ribuan memori yang dulu pernah dilalui bersama (duile pagi-pagi).

Kali ini, gue ingin bercerita sedikit soal duo akustik gue yang menjadi penghangat disaat band gue Indonesia Attack memutuskan buat 'istirahat' sejenak. Perkenalkan, nama kita Tea Mate atau Rekan Ngeteh (halah hahaha).
Awal mulanya adalah, ketika gue bertemu dengan seorang cowok Jepang ciamik bernama Hiroshi Toyoshima, atau nama Indonesianya Mas Opih (entahlah temen gue si Mamah itu ngasih nama orang sembarangan aja tapi udah melekat di hati hakhakhak) di kelas Bahasa Inggris. Berselang dari situ, gue mendapat tawaran manggung akustikan di sebuah live house di kota, dimana ownernya juga gue kenal baik dan gue dulu sama Indonesia Attack sering manggung juga disitu. Di live house itu juga biasanya tiap 2 minggu sekali suka ngadain event akustikan bernama Jaka-Jaka. Gue juga gatau kenapa namanya Jaka-Jaka, mungkin maksudnya tidak ingin melupakan para Jaka-Jaka seperti Jaka Tarub dan Jaka Sembung di Indonesia ya (ih naon garing).
Dan gue gabisa manggung sendirian. Bukan gabisa sih... gue ga pede tepatnya. Terus mengingat hubungan gue sama Amami juga ngga oke (alias gue sedang dalam proses move on saat itu) jadi gue cukup kebingungan mau cari gitaris buat jadi rekan bermusik gue. Pada satu kesempatan setelah kelas beres, gue pun memberanikan diri menanyakan ke si Mas Opih, apakah dia bersedia mau manggung sama gue akustikan.
Ternyata, gayung bersambut. Dia mau gue ajak kencan manggung bersama!

Kebetulan dia ternyata bisa ngegitar, dan punya pengalaman manggung juga. Akhirnya, kita pun sepakat buat jadi duo akustikan untuk acara Jaka-Jaka mendatang. Jujur, gue nervous, karena selain anggota band gue, gue ga pernah manggung bareng sama orang lain. Apalagi, pada saat itu, Mas Opih sendiri sukses menggelitik hati gue.

***

Seperti yang udah gue tulis di blog sebelumnya, duo akustikan ini pun perlu nama. Kan ga seru kalo entar perkenalan namanya cuma Puri-chan dan Hiroshi-kun doang. Pada suatu malam, sembari latihan dan memutuskan lagu apa yang mau dibawakan, gue pun menulis sebuah list nama-nama yang jadi kandidat nama akustikan kita berdua (iya, salah satunya Midnight Tofu hahaha). Setelah dari sekian banyak nama yang disortir dan dipikir ulang, ada salah satu nama yang menurut dia menarik perhatian. Yaitu, Coffee Mate.

Mas Opih: "Ini kenapa ada nama Coffee Mate disini?"
Gue: "Oh.. soale kan situ seneng minum kopi. Keingetan aja."

Mas Opih kalo ke rumah, biasanya paling rajin minta kopi udah kayak hansip. Dan gue, yang bukan penggemar kopi, cuma bisa bikinin doang dan gue pun kepikiran buat nulis itu sebagai kandidat nama duo. Tapi pada malam itu, kita berdua lagi ngeteh bareng, bukan ngopi. Mas Opih sambil nyeruput tehnya, kemudian berkata:

"Gimana kalo Tea Mate aja? Kan kita berdua lagi minum teh bareng ini."

Kemudian gue baru nyadar. Iya juga. Kalo dia ngopi, gue biasanya ngga pernah jadi rekan ngopi doi. Tapi kalo ngeteh, baru deh gue ikutan. Akhirnya dengan sepenuh hati, gue menyetujui nama kita berdua. Malam itu, lahirlah, Tea Mate.


Tea Mate pun terbentuk sekitar bulan November (atau Desember? Lufa-lufa ingat) tahun 2013 dan bertahan sampai bulan Maret 2014. Memang, band-nya ngga gitu bertahan lama, tapi hubungan kedua orangnya sukses bertahan selama 2 tahun kurang :3 *oke di sesi ini kita teruskan kapan-kapan saja ehe*

Berikut salah satu video kita, saat kita manggung pertama kalinya di event Jaka-Jaka itu, dengan lagu andalan kita, Time Machine.


Lagu ini berjudul 'Time Machine' yang gue ciptakan dengan ngga sengaja huahuahua. Iya, kebanyakan lagunya juga bahasa Inggris karena gue merasa menciptakan lagu pake bahasa Inggris jauh lebih gampang ketimbang bahasa Jepang (ya maklum lah gue juga ga jago-jago banget bahasa Jepangnya huhuhu). Isi ceritanya mah, cuma ceritanya dua pasangan yang dulunya saling mencinta, putus, tapi masih cinta. Iyah, tipikal FTV-nya Indonesia banget wkwkwk. Yah sama seperti jalan cerita FTV itu, hepi ending kok. Cuma ga diceritain aja... (???) Mas Opih disini kebanyakan diem--karena dia bilang dia ga pede sama suara dua-nya. Jadi cuma jadi pengiring gue aja selama nyanyiin lagu ini. Original-nya lagu Time Machine, terselip lirik bahasa Jepang yang dirikues secara khusus sama Mas Opih.

"Gamau tau. Masukin lirik bahasa Jepang! Kalo salah gue benerin pokoknya tulis aja dulu!"
Katanya, di telepon.
Njeh, Mas.

Lagu Time Machine ini pun di-remake lagi sama band gue, Indonesia Attack buat dijadiin versi band-nya dan dimodifikasi sedikit; seperti dihilangkan bagian bahasa Jepangnya dan diganti gitar solo-nya Amami. Monggo di cekidot, gan :3



Meski bisa terbilang masih baru dan ngga lama, Tea Mate sukses dikenal sama beberapa musisi lokal--tapi bukan ke band-nya, lebih ke: "Lho kalian pacaran ya??" -____-

Dalam waktu sebentar itupun, kita berdua punya 1 karya yang sampe sekarang ga nambah-nambah :)) hahaha. Ya, setidaknya, ada kenang-kenangan sampe akhirnya kita memutuskan buat 'berpisah' karena Mas Opih sendiri saat itu udah lulus. Gue rikues sama dia, tolong tulisin lirik dan gue bakal arrange musiknya, dan direkam dengan serius. Setidaknya kita ga cuma numpang eksis aja sebagai duo candu teh yang bisanya cuma berantem-baekan tiap latihan.

Suatu hari Mas Opih dateng ke rumah dan membawa semua peralatan perang dia alias gitar dan kertas-kertas dan buku buat corat-coret lirik lagu. Ngga perlu waktu sehari, dalam semalaman, gue pun berhasil menciptakan lagu baru kita berdua, yang dinyanyikan kita berdua yang liriknya pun terdiri dari dua orang berbeda yang berjudul 'Amanogawa' atau bahasa Inggrisnya, 'The Milkyway'.

Lagunya sendiri, secara tidak sengaja menceritakan dua kisah cinta antara Orihime dan Hikoboshi--dimana itu merupakan cerita legendaris terkenal di Jepang. Gampangnya, Orihime dan Hikoboshi dipisahkan antara sungai besar (galaksi Milkyway) yang dimana mereka juga cuma bisa bertemu satu tahun sekali. Bayangkan. Yang LDR cuma bisa ketemu sebulan 2 kali aja udah mpot-mpotan gimana ini setahun sekali?!! Mungkin yang tengah LDR-an sejenis dua pasangan ini, paham sekali ya kalo perasaannya tuh sakit sekali... :(
Seiring dengan terciptanya lagu ini sendiri, bertepatan pula pada malamnya saat lagu ini 'rilis', Mas Opih harus bertolak ke Tokyo buat memulai hidup baru dan gue masih harus tinggal di Kochi buat nerusin kuliah (heyaaa). Jadilah, gue dan Mas Opih harus berjauhan yang dibatasi oleh lautan karena Tokyo dan Shikoku berada di pulau berbeda. Deuh udah makin kayak curhat dua anggotanya beneran ya, padahal bikinnya ga sengaja lho :(((

Perpisahan kita berdua pun lumayan....... sedih :(

Ya Allah Puri kok bulet amat :(


sedih banget, karena selama berkolaborasi, gue dan Mas Opih jadi sangat dekat sekali dan tiba-tiba musti berpisah begitu aja. Meski sesaat setelah dia lenyap dari pandangan malam itu sehabis kita berpelukan yang terakhir kalinya, dia nge-message gue dan bilang:


「今までありがとう。いつまでもティーメイトは変わらないから。」(Terima kasih ya selama ini. Sampai kapan pun Tea Mate ngga akan berubah kok.)

Tapi yang namanya masa depan, ngga pernah ketebak dan diketahui, hidup manusia aja bisa berubah, begitupun hubungan kita berdua.

Lagu Amanogawa sendiri, sudah berusia 1 tahun di bulan Juli tanggal 7 lalu. Gue (dan mungkin Mas Opih) sendiri suka 'merayakan hari jadi' kita berdua dengan mendengar lagu Amanogawa dari masing-masing tempat. Bagi yang mau coba denger, monggo di klik disini :3 Pake bahasa Jepang sih, tapi semoga suka yaaa ehe.

Thursday, 14 May 2015

Indonesia Attack (2)--end

Hola!
Kembali lagi sama saya yang kali ini bakal ngebahas band gue di bagian kedua.

Setelah kita mengungumkan perpisahan terhadap 2 anggota band kita yaitu Mas Katayama dan Mbak Tsutsui, selama 8 bulan kurang lebih kita pun berhenti beraktifitas sama sekali. Dikarenakan, gue juga ada magang di Osaka selama 5 bulan (semua demi nilai dan kuliah huhuhu).

Foto bareng om Katayama pas kelulusan :3 jaman-jamannya rambut buceri (bule ngecet sendiri)

Tapi ternyata hasrat ngeband itu masih tersisa. Gue sendiri selama menetap di Osaka, ngga nyentuh alat musik sama sekali. Sampai akhirnya Amami, nge-line (cieh ngeline euy bahasanya) dan menanyakan keberadaan gue sekaligus berkompromi apakah gue bisa ngeband lagi.
Amami ternyata mengungkapkan kerinduannya (ngeband, bukan merindukan gue) dan bilang ada tawaran manggung lagi. Gue sempet agak mikir perlu gue terima lagi apa engga karena waktu itu niat gue berenti berkarir (duile) di dunia musik udah oval (belon bulet). Tapi katanya sih cuma live kecil-kecilan aja jadi yasudah. Kebetulan waktunya juga pas gue udah kelar magang, akhirnya gue terima tawarannya.

"Terus drummer sama bassisnya piye?" kata gue.
"Gampang lah. Bisa comot junior dimari." kata Amami ngegampangin. "Yang penting show dulu deh cil."
Yawis, kata gue. Akhirnya, dapetlah kita drummer dan bassis supporter. Drummernya sih lumayan bisa dipercaya, soalnya termasuk drummer yang bandnya kece juga di kampus. Bassisnya? Hgg... gue ga gitu paham siapa orang ini tapi sudah dipastikan sepertinya saya ndak jodoh sama orang ini (ehe ehe ehe).

Akhirnya pada November 2014, Indonesia Attack 'nongol' lagi dan ga gitu banyak perubahan (terutama bajunya Amami).


'Penampakan' baru Indonesia Attack setelah sekian lama, bonus si drummer baru bernama Tetsuro 'Kolor' Gonzales. Ga usah tanya juga kenapa panggilan dia Kolor, gue juga ga berani nanya.


Setelah dari situ, gue sempet diskusiin sama Amami, apa perlu kita ganti nama. Cuma emang asa aneh aja kalo misalnya kita ganti nama jadi Monas Attack, rasanya entar malah pada bingung ini grup band apaan dan gue paling mager adaptasi lagi. Belum lagi, kalo ganti nama, artinya ganti gaya musik juga dong ya? (apa ngga juga sih?). Setelah berbagai macam pendapat, kita pun memutuskan tetap menggunakan Indonesia Attack.
"Sekalian, kenang-kenangan dari mas Katayama." kata gue menutup diskusi.

Kita sempet berganti personil drummer dan bassis lainnya. Di acara live lainnya, kita malah pake bassis bule yang kebetulan juga kenalan gua hauehauheua.

Bassis lainnya yang bernama Guy, orang Amrik KTP sini dan drummer di cajon, Kota.

Saat live yang kedua kalinya disini, sesungguhnya Amami dan Kota itu lagi pilek abis-abisan. Sepanjang jalan pun mereka bawaannya bersin-bersin, ditambah si Kota kaga bawa tisu dan mau ga mau pake sapu tangan gue yang belon dibalikin ampe sekarang :| (Ambil aja dah ambiiiilll)

Setelah ini pun, gue sempet ngga gitu yakin buat lanjut lagi bandnya. Merasa agak putus asa, karena Amami sendiri orangnya susah ditemuin dan gue kehilangan ide buat bikin lagu.
Jeleknya band gue ini, dari dulu anggotanya selalu berjalan sendiri-sendiri. Mentang-mentang berasal dari berbagai pelosok berbeda di Jepang (basis gue orang lokal sini alias Kochi, drummer gue orang Kobe, Amami sendiri dari pulau 'Amami Oshima' yang deket sama Kyushu sana), semuanya bersifat kedaerahan (?). Jadi susah diajak diskusi, dan memiliki kemacetan dalam membuat kita 'keluar' dari tempat yang gitu-gitu aja. Ngga ada broadcasting, promosi, atau mencoba ikut audisi kemana-mana. Selama setahun lebih lamanya, gue dilema dan akhirnya menyerah banget dan selalu berniat berhenti dari band ini.

Akhirnya pada suatu kesempatan, gue menanyakan Amami buat manggil basis dan drummer yang waktu itu pernah ikut ngeramein festival kampus. Gue juga ga terlalu kenal siapa mereka, tapi menurut kabar yang beredar, mereka sangat dewa sekali.

festival sekolah pada bulan November 2014, dengan dua personil tambahan yang sekarang jadi member tetap kita :3


"Tapi mereka udah kerja, Cil." kata Amami. "Gue ga yakin mereka mau kesini lagi apa engga..."
"Yaaa buat cadangan aja, jaga-jaga kalo ada manggung lagi. Kontak mereka jauh-jauh hari aja, gimana?"
"Bisa juga sih. Gue tanya lagi deh ya."

Ternyata ngga sampe seminggu, penantianku membuahkan hasil! Hasilnya positif Ternyata si drummer dan basis itu setuju asal kalo latihan sabtu-minggu. Mereka ga permasalahin kalo harus dateng dari Kobe dan Tokushima buat ke Kochi. Meskipun tidak ada pengunguman resmi, sejak Januari 2015 kita pun resmi mejeng jadi band beranggotakan dua orang ini:

Kiri: Kohei Funabiki (Drummer, asalnya dari Kobe), Kanan: Asahi Yamasaki (Bassis, asalnya Kochi tapi KTP Tokushima)
Kali ini, gue sukses jadi satu-satunya anggota yang paling cantik. Oh jelas, karena semuanya pria. Dan gue literally perawan di sarang penyamun ehe.
Dibandingkan yang lalu, Indonesia Attack dengan wajah baru ini akhirnya memiliki berbagai macam perubahan. Salah satunya warna musik (dimana mas Asahi dan Amami ini demennya ngerok-rokan yang ada bikin gue megap-megap kalo nyanyi). Kemudian, kita lebih friendly dan bisa dengan mudahnya di ajak berkomunikasi. Apalagi, di ajak foto bersama.

Foto pertama dengan member baru di tengah-tengah kota Juso, Osaka yang bersalju.

Huahua tapi tetep sih se-friendly-friendly-nya Jepang... *bisik-bisik*

Mengenai profesi, mas Asahi bekerja sebagai PNS, di balai kota di Tokushima. Dengan bentukan fisik yang kecil (dimana lebih besar ukuran bassnya dia daripada badannya), berwajah imut dan awet muda, memang agak kurang pantes kalo dia pake jas dan bawa tas kantoran. Wajahnya tidak seresmi bajunya. Nilai lebih lainnya, mas Asahi sendiri ternyata pernah menjuarai kompetisi bassis tingkat nasional (dan denger-denger sih juara 1) dan pernah masuk majalah bass juga. Ngga heran, rupanya selama dia ngampus dia itu jadi banggaan anak-anak klub musik dan itu adalah alasan kenapa gue memercayai mas Asahi buat 'menghidupkan' band gue ini huahuahue.

Sedangkan mas Kohei, dengan perawakan agak chubby yang murah senyum, adalah seorang guru matematika SMA (pantes aja pertama kali kenalan mukanya kayak rumus). Dia maennya jago. Banget. Katanya udah main drum sejak SD dan keterusan sampe sekarang. "Saya itu sebenernya dulu aktif main baseball," katanya. "tapi ketimbang mukulin bola, saya ternyata lebih seneng mukulin temen eh snare ehe."

Minus pointnya: Mas Asahi itu Paman Gober.

Beberapa waktu lalu ketika menikmati masa-masa quality time sama semua member, gue baru tahu akhirnya kelakuan para cowok-cowok itu terlepas dari megang alat-alat musik.
Pada dasarnya sih semuanya seragam: kaga ada yang nalar. Maksudnya nggak sejenis cowok-cowok yang ladies first gituloh. Mereka lebih menjunjung tinggi equality dimana gue sendiri disuruh angkat-angkatin ampli huhuhuhu.

Tapi gue seneng banget akhirnya gue punya band yang 'hidup', yang akhirnya punya visi-misi, ga cuma asal gonjreng aja di panggung-panggung.
Salah satunya yang paling banyak ikut berkontribusi akan segala macem itu adalah bassis baru kita, mas Asahi, yang rajin ngelagu dan ngirim-ngirim hasilnya, atau ikut nge-cover-cover, dan nge-upload video-video manggung kita (IYA! Indonesia Attack punya yutup loh! Mampir disini ya!). Pokoknya berbagai medsos sejenis yutup, twitter, line (ID: @IBP3130U), pesbuk, (sampe vine pun ada) ini itu wis nongol deh.
Meskipun agak telat, akhirnya kita bisa 'nyebar' ke berbagai tempat buat ngiklanin dan promosi jadwal manggung huahua (berasa Beyonce). Yah namanya juga usaha, Bapak-bapak, Ibu-Ibu...

Telat tapi pasti, gue bersyukur banget hasil manggung kita ngga ada yang ngecewain!
Berkat kerjasama yang baik, band gue pun akhirnya bisa manggung dengan lancar setiap saat. Salah satunya, kita pun akhirnya manggung pertama kali di luar Kochi, yaitu di Kobe, daerah rumahnya mas Kohei.

Indonesia Attack manggung di Kobe, bulan April 2015

Dari situlah, kita pun akhirnya mulai memikirkan kedepannya harus gimana, salah satunya proyek rekaman dan penglepasan album baru. InsyAllah :3
Hasil manggung di Kobe pun ga mengecewakan!
Meskipun 80%nya adalah siswa-siswa dari mas Kohei, ternyata nama band kita langsung menyebar di daerah Kansai. Apalagi, anak-anak kecil itu pun langsung tertuju matanya ke... mas Asahi :)))

Mas Asahi rupanya jadi ikon Indonesia Attack banget. Gue mendapatkan kesimpulan selepas kita manggung di Kobe beberapa waktu lalu:
"FUNASSSSSHHHIIIIIII!!!!!!!"
My drummer, a math teacher, invited all of his students to the live and the only one who is really famous in that live house.
"ASAHIIIIII!!!! OMG OMG ASAHIIIIIII!!!!! KYAAAAA ASAHIIIIIII!!!!"
My bassist, a candy eye for all the girls, and everybody makes a line to take a picture with him.
"WHO IS THAT GUITARIST??? HE PLAYED LIKE A PRO, DAMMIT."
Morita Koyo doesn't exist but his guitar does.
"Permisi, Mbak. Mau English Menu-nya?"
A life of foreign vocalist.

Iya dan itu true story banget. Sebel ga sih huhuhuhu.

Tapi setidaknya, mudah-mudahan kita bisa awet seterusnya ya :) Karena ngeband disini juga jadi pengalaman yang berharga banget selama gue kuliah di Jepang.

Salam cihuy! Anak cewek di sebelah gue itu mantan siswanya drummer gue, dan dia adalah manajer (ngga resmi?) kita ehe. Jauh-jauh dateng dari Kobe cuma buat moto-moto dan jagain semua barang dll.


Thursday, 7 May 2015

Indonesia Attack (1)

INDONESIA ATTACK


APAKAH ITU INDONESIA ATTACK????


Bukan, ini bukanlah sebuah kelompok yang bermaksud menyerang Indonesia. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan kelompok ekstrimis yang aneh-aneh itu. Kita juga ekstrimis sih, ekstrimis keimutan (?)
Indonesia Attack itu adalah sebuah band yang (sama sekali enggak) terkenal di Kochi (Kochi Jepang ya bukan yang India). Band ini terbentuk di sebuah sudut studio terbesar di kampus saya yang namanya Kochi University, yang waktu itu mempunyai kepala suku bernama Katayama Yusuke.
Ohya, disetiap cerita yang gue alami di setiap pertemuan, gue selalu menyukai 'pertemuan'. Dan selama ini sepanjang hidup gue bertemu dengan orang-orang yang gue sayangi, gue selalu memiliki cerita-cerita lucu (dan mungkin engga juga...) sebelum proses saling mengenal. Begini ceritanya:

Sejarah (terbentuknya) Indonesia Attack (dibuat se-dramatis mungkin biar ga kalah kece dari sejarah terbentuknya PBB)

Waktu itu hujan-hujan. Dan gue, seorang anak culun tahun pertama yang lagi nyari-nyari klub oke buat di timbrungin. Beberapa hari sebelumnya, gue sebagai mahasiswa asing dapet mentor orang Jepang, dan si orang Jepang itu menyarankan gue ikutan klub musik dan memberikan gue arahan untuk menghubungi si ketua klub buat join. Akhirnya setelah gue memberanikan diri e-mail, beberapa saat kemudian terdapat jawaban. 
"Selamat datang di Sea Breeze! Nama saya 方山 dan saya adalah ketua klub sini. Kapan bisa ketemuan dan mampir?"

Jujur, pada saat itu gue kebingungan membaca nama dia. Antara Katayama, dan Houyama (inilah keribetan bahasa Jepang--satu hurup berjuta bacanya). Tapi karena Houyama itu terdengar aneh, gue dengan pedenya pun memanggil dia Katayama-san, atau akrabnya, Mas Katayama.
Kembali lagi saat hujan turun, setelah janjian (ciye) sama mas Katayama buat ketemuan di tempat dan waktu yang ditentukan, dia pun datang. Gue dengan payung transparan beli di lawson pun kontan menengok ke arah laki-laki tinggi semampai, brewosan, dan senyum lebar bak baru kejatohan duren. Setelah saling berkenalan, dia pun mengajak gue ke studio yang terletak deket sama lapangan bola. Kesan pada pertemuan pertama, mas Katayama itu ramah dan anaknya selalu berusaha ngajak gue ngobrol bahasa Inggris. Setelah aman dari hujan dan naik ke lantai dua sebuah gedung, tibalah kita berdua di sebuah studio besar yang saat itu jauh lebih mirip bantar gebang. Serius, bo, sampah dimana-mana...
Pada sesi jamming pertama kali, gue dipersilahkan main piano yang ada disana. Beberapa orang yang berkumpul disana ikut mengiringi, dan jelas, yang masuk kesini pun pasti emang pada jagoan musik semua. Salah satunya adalah, seorang gitaris merem-melek yang menjadi gitaris andalan band kita sampai sekarang, yang juga pernah membuat saya jatuh hati dan tanpa sengaja melukai hati saya (LHO KOK INI JADI MELLOW GINI?) 
Wah ngeblog sambil ngedengerin Ari Lasso ngga sehat nih... bawaannya mau ngegalau.........
Iya, singkat cerita (dan masih panjang sih) moment-moment pertama kali gue dan Katayama saling berkenalan dan bertemu dengan orang-orang asing sesama musisi kelas anak kampus pertama kalinya di studio itu ngga pernah hilang dari ingatan gue. Satu bulan dari jamming tersebut, gue yang sama sekali ngga pernah tahu apa nama band kita, siapa aja anggotnya, ternyata dapet undangan buat manggung pertama kali di sebuah live house kecil di bawah tanah di alun-alun kota.
Kita sebagai band yang bikin lagunya aja sehari sebelum manggung, berasa paling culun soalnya ternyata yang manggung saat itu rata-rata orang-orang yang alirannya hardrock dan metal. Nah, band yang genre-nya mellow campur sari cem gue ini ya jelas aja kelelep lah ya...

Penampilan perdana Indonesia Attack pada malam yang sangat metal

Nama Indonesia Attack sendiri sebenernya dicetuskan (duile dicetuskan) sama mas Katayama sendiri yang artinya baru gue ketahui 2 tahun kemudian. Dia bilang, karena gue memiliki aura yang kuat (kirain aura kasih...) sebagai satu2nya orang Indonesia di kerumunan orang Jepang. Tapi 90% Katayama mengklaim bahwa pemberian nama band ini hanya karena iseng semata. Heyaaaa...

Faktua Unik yang (Tidak) Perlu diketahui:
Biasanya kalau ada acara minum-minum bersama (nomikai) dan kalo udah ada yang mulai 'kalap', band ini terkenal karena berubah nama menjadi Indonesian Attack.

salah satu contoh Indonesian Attack (nak, kamu kalo mau ngejajah balik ngga gini juga caranya...)


ANGGOTA INDONESIA ATTACK
Kita semua memang berdomisili di Jepang, tapi bukan berarti kita adalah ninja. Anggotanya juga sama sekali ngga ada yang atraktif (disorakin se-RT). Jujur, lebih kece bangku taman dibedakin kayaknya daripada membernya.

Ini gitaris kita, namanya Koyo Morita. Iya, ngga salah baca, namanya sama kayak plester buat pegel-pegel itu.
dan iya, matanya emang suka ilang kalo lagi ketawa.

Ini drummer kita, Yusuke Katayama alias kepala suku Studio Sea Breeze dan pentolan band ini. Liat aja, kelakuannya.

INI SAYAAA PAS TAHUN PERTAMA. Masih semog. Sexy-montog.

Pemain kontra-bass kita, yang bernama Mika Tsutsui. Yang dimana gue sama sekali ngga begitu paham... siapa orang ini sebenarnya... (but so far, kakak ini emang terkenal sebagai basis cewek paling dewa se-aentaro klub musik)

Semua foto-foto ini diambil pas tahun-tahun pertama kita aktif manggung. Maunya sih gue masukin foto-foto koleksi lainnya cuma bakalan jadi beralbum-album nanti.


Setelah dipikir-pikir sembari menelusuri album digital di macbook, usia Indonesia Attack udah 2 tahun lebih dan akan menginjak usia ke 3 bulan Juli mendatang. Ternyata udah lama juga ya gue menjamur di studio, selama si Koyo juga betah di kampus (btw gue ngga pernah manggil gitaris gue dengan sebutan Koyo, gue punya panggilan istimewa buat dia yaitu Amami. Sejarah kenapa dia disebut Amami sebenernya ada, tapi nanti aja dibahas kapan-kapan :))) ).
Satu tahun setelah kita bersama, kita sudah membuahkan hasil 1 mini album yang waktu itu lumayan banyak juga yang mau beli dan dengerin huahuahua. Kalau mau denger, bisa denger disini dan cari yang namanya Indonesia Attack. Gue cuma upload 3 lagu yang (saat itu) banyak peminatnya.

Banyak yang hal yang udah gue lalui sama band kesayangan gue ini, termasuk keinginan ingin berhenti. Bukan, bukan karena jenuh, tapi gue sempat berpikir band ini ngga akan membawa gue kemana-mana. Well sejak awal pun band ini emang bukan hal yang diseriusin, tapi keinginan gue ingin membawa band ini 'keluar' agak sulit karena terbentur bahasa, cara berpikir, dan kesibukan masing-masing individu (saat itu mas Katayama dan mbak Tsutsui udah tahun terakhir dan lagi sibuk-sibuknya skripsian). Bisa dikatakan, band gue cuma terkenal melalui omongan orang-orang karena vokalisnya itu foreigner dan nama bandnya yang nyentrik. Sejauh ini, masih banyak yang ga gitu bisa ikutin lagu-lagu kita karena semua dinyanyiin pake bahasa Inggris (gue pernah mengajukan kasasi--naon sih bahasa gue-- buat bikin lagu pake bahasa Jepang, tapi ditolak mentah-mentah sama Katayama karena udah susah-susah nemu vokalis orang non-Jepang buat nyanyi lagu pake bahasa lain. Gue tadinya mau bikin pake bahasa Sunda tapi takutnya suporter bola malah dateng...).

Semua masalah kegalauan gue akan 'masa depan' band ini tambah runyem ketika gue ternyata jatuh hati sama si plester jidat itu.

Nah, semua pasti tau lah yang namanya kalo udah menyangkut masalah hati, apalagi, antar band, udeh dah amburadul. Dalang dibalik semua ini sebenernya Katayama yang berusaha menjodohkan gue sama Amami, tapi hasilnya? Ada di sekmen lainnya!

"Ehe... penasaran ya?"

Yaaa intinya mah ngga hepi ending sih (garuk tembok derita).

Setelah beberapa bulan sempet tegang, akhirnya kita memutuskan untuk 'istirahat' sejenak, sampai Maret 2014 lalu kita pun tiba di acara manggung terakhir sebelum upacara kelulusan mas Katayama dan mbak Tsutsui.

moment ini pun menjadi sebuah akhir dari masa gue mengecet rambut gue, dan kembali lagi jadi hitam hauehauheua.


Acara manggung kita yang terakhir pun merupakan moment yang sangat menyenangkan, karena segerombolan band top kampus (dan yang udah cukup dikenal di Kochi) berkumpul di satu panggung lagi menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Para penyanyi-penyanyi yang udah 'pensiun', atau basis dan gitaris yang sudah lama meninggalkan Kochi, atau mungkin seorang penyanyi yang ternyata dulu cuma beking vokal pun bergabung semua. Konser malam itu bener-bener meriah. Ditambah urutan manggungnya aja pake narik undian huahuahua.

Salah satu band yang terbilang cukup baru tapi lumayan ngena, adalah band bernama Shimajikan yang juga dimotori Amami.
Di panggung yang berbeda, terjadi moment haru-biru dimana sang basis yang juga lulus itu tiba-tiba membanting bass-nya dan mewek di panggung. Iya serius. Mewek. Cowok lho. Sangar lho.

"Cep cep cep mas Fujiwara..."

Jujur gue ngeliatnya juga pengen ikutan nangis bawaannya.
Ah... apa jangan-jangan pas lulus begini, gue juga akan merasakan kesedihan yang sama? Atau ternyata malah lempeng aja? Sebenernya yang gue takutkan itu, kalo gue mewek guling-guling saat mengekspresikan kesedihan gue berpisah sama band gue ini, ngga akan ada yang bersedia ngapus air mata gue kayak si Amami itu *forever alone*

Jadi...
Ini masih bagian pertama perkenalan band gue. Sampai ketemu di part 2 ya :)

Sunday, 9 December 2012

Closing Year.

Hualau!
sudah lama sekali tak bersua saya disini. Sebenernya ngumpulin mood buat bikin cerita menarik itu emang susah banget ya. Ternyata emang ga gampang buat jd penulis blog sendiri.
Jadi gue sendiri emang kebetulan lagi pusing banget sama tugas-tugas kuliah yang ga kenal ampun itu. Ditambah emang lagi jaman UTS, gue harus rela tenggelam dalam report yang tak kenal akhir itu hiks hiks.
So akhirnya setelah melewati masa-masa mau tewas selama 2 bulan (dari bulan November), akhirnya gue dan band gue pun manggung buat isi acara konser musim dingin yang diselenggarakan sama Sea Breeze itu sendiri, sekaligus penutup dari keanggotaan anak-anak tahun ke 3 alias pada pensiun. Salah satunya adalah drummer gay unyu namun kece gue itu, bang Katayama.

Itu Katayama yang melemparkan dirinya ke lautan masyarakat setelah doi tampil dengan penuh pesona. Jeilehhh.(sumber poto: temen dari jepun)


Abang Katayama udah setahun menjabat sebagai ketua Sea Breeze. Dan sekarang posisi itu diganti sama vokalis andalan band bernama Michelle yang bernama Suenaga. Atau panggilan imutnya Sue-chan.
Heits, doi ndak seimut namanya. Bahkan orangnya jauh dari namanya. Dia berjakun, saudara-saudara.

keterangan poto: basis: abang Fujiwara. Drummer: abang Katayama. Liat kan cowok chubby berbaju hitam? Nah itu abang Sue. Ketua SB yang baru. Uhuy.


Jadi konser terakhir ini sekaligus penutup tahun, pergantian pengurus, dan... kemungkinan band gue pun akan break. Karena mahasiswa tahun ke-3 di band gue itu mbak Tutui dan bang Katayama. Sisanya tinggal gue dan Amami yang bertahan. Dan kemungkinan, akan ganti anggota baru. Dan gue sangat.. sangat anti beradaptasi lagi.

Well call me naive. Tapi gue emang ga suka sama hal-hal berbau adaptasi sekarang-sekarang ini. Karena gue udah kebanyakan adaptasi.. dan gue ga suka kejutan sebenernya. Entah lah, memahami orang Jepang baru lagi, dan gue pasti masih kebayang-bayang bang Katayama atau mbak Tutui nantinya.
Well..
Entah sih. Hidup kan emang adaptasi setiap hari. Cuma gue kayaknya masih belum mau kehilangan 2 member keren gue itu. Udah terlanjur sayang sama mereka berdua. Well resiko sih namanya juga band kampus. Setidaknya, selama 6 bulan kebersamaan kita, ga sia-sia udah ada beberapa lagu, 1 rekaman, dan (akan segera punya) 1 CD sendiri. Asyik asyik hihi.

Ntar lagi dibahasnya kalo soal lagu mah yak. Belon siap huehue.

Dan setelah euphoria yang lumayan rame banget selama acara sampe endingnya, kita pun langsung meluncur ke tempat makan-makan. Tradisi Jepang itu biasanya kalo udah capek-capek manggung atau ngeshow atau kerja keras, bakalan ada pesta gede-gedean yang... berakhir mabuk-mabukan. Huehue.. Pokoknya hepi hepi *pukul gendang
Kebetulan, bang Katayama udah mabok duluan karena pas dipanggung dia diminumin sake jepun yang emang kadar alkoholnya luar biasa. Dan Katayama cuma minum satu teguk. Dan dia mabuk.
Katayama punya isu lemah alkohol dimana.. ya itu. Baru satu teguk, udah langsung bikin dia pengen loncat dari atas panggung. Dan setannya adalah.. Amami.

Dan ternyata bener aja pas di tempat makan-makan, mereka pun mulai mabuk-mabukan. Beda sama Katayama yang kayaknya mabuknya udah kelewatan (serius padahal cuma minum sekali dan dia udah guling-guling di lantai sambil meluk buku komik), para anggota SB lainnya mabuk versi slow but sure.
Biasanya, cowok-cowok SB pada gentayangin meja-meja yang ada penghuni yang lagi anteng makan. Dan ada nyanyiannya sambil joget-joget bawa bir.


"Ore to omae to dochi ga tsuyoiiii~~~~"
Terjemahan: "Gua atau elu kuatan manaaaa~~~~"

Gue kayak liat konser dangdut mendadak.
Dan orang Jepang itu biasanya kalo gelasnya udah kosong, selalu diisi. Kebayang kan betapa banyaknya mereka minum? Kembung, kembung dah.
Pemandangan epik yang gue liat ketika suasana makan-makan ini adalah cowok-cowok yang maboknya bener-bener kelewatan. Salah satunya aja si Amami yang udah nyosor ke cowok lain buat dia cium (itu bikin gue ilfil setengah mampus sekaligus membuktikan dia memang gay). Bahkan cowoknya itu udah dia tarik mukanya tapi si 'korban' dengan gesit kabur.
Ada lagi yang dateng-dateng ke meja cewek-cewek buat flirting basa-basi, goda-godain waitres, atau nyanyi-nyanyi bikin vocal group.
Gue?

Iya gue juga ikutan sinting kayak mereka :| (jangan dicontoh ya...)

Mabuknya cewek dan cowok beda. Sama kayak pas keadaan normal, biasanya cewek lebih emosional dan tingkat emosionalnya ini bisa jadi 5 kali lipet. Menurut laporan yang ada, gue menghabiskan malam itu dengan ketawa-ketawa dan tiba-tiba nangis.
Mabuk dan gila bener-bener beda tipis.

Ada beberapa cewek yang juga ikutan kolep. Tapi ternyata disaat mabuk, tiba-tiba seluruh cowok-cowok SB pada mendekati gua. Apa-apaan itu. Masa gua kudu teler dulu baru pada demen? Sejenis daya tarik apa ini??
Hahaha becanda. Well gue sempet merasa, cuma di sesi seperti inilah, cowok Jepun ngga sedingin yang pernah gue bahas. Mereka bisa jadi sangat kind, dan baik banget dan mau memberikan rasa aman ke si cewek kayak yang cowok-cowok Barat itu lakukan.
Disaat gue nangis, ada seorang cowok (namanya Tokki) yang ga ngelepasin gue dari pelukan dia.
Wujudnya ini nih:

Abang Tokki si multi-talent!


Gue sendiri emang dalam kondisi setengah sadar. Tapi abang Tokki ini ga sedetikpun ngelepasin gue yang juga terus-terusan meluk dia saking lagi sedih-sedihnya (padahal gua sangaaaat anti meluk-meluk cowok). Dan tiba-tiba gue merasa nyaman. Dan kondisi ini mematahkan fakta bahwa, cowok Jepang itu sebenernya bisa sangat lembut. Mereka cuma over-jaim aja dan disaat begini emang kaga ada yang bisa boong.
Abang Tokki ga berenti ngusap-ngusap kepala gue dan nyisirin rambut gue pake jari-jarinya dia. Dan terus-terusan bilang;
"Nangis aja Cil, nangis. Nangis yaaa yang puas biar tenang biar lega. Semuanya sayang kok sama elo. Udah ya kalo bisa jangan nangis lagi."
kira-kira begitu kalimatnya yang dia ulang-ulang terus. Bahkan pas dia kasih arahan yang lain buat pulang, Tokki ga beranjak dari tempat gue dan doi yang anter gue sampe luar. Tokki rela banget punggungnya gue pelukin terus karena gue kehilangan keseimbangan buat jalan. Oke ini maksimum sekali.

Dan gue merasa, well, cowok Jepang cuma bisa kebuka dalemnya kalo dalam sesi seperti ini. Kadang gue suka hm hati gue mencelos sendiri. Buat apa juga sih jaim-jaiman? Ga ada gunanya juga toh? Sifat dan keinginan sebenernya mah ga akan bisa dibohongin. Sama cewek jangan dingin dingin banget. Cukup kulkas aja yang dingin.(dan sejak kejadian itu, gue denger rumor si Tokki naksir sama gue. Yah sama aja doooong...)

Jadi untuk penutup tahun ini, meski belum bener-bener akhir tahun, rupanya memang seru abis.
Indonesia Attack kayaknya masih terus berjalan. Tapi entah sih kapan, yaaa kita lihat saja nanti.

salam cihuy!