Thursday, 7 May 2015

Indonesia Attack (1)

INDONESIA ATTACK


APAKAH ITU INDONESIA ATTACK????


Bukan, ini bukanlah sebuah kelompok yang bermaksud menyerang Indonesia. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan kelompok ekstrimis yang aneh-aneh itu. Kita juga ekstrimis sih, ekstrimis keimutan (?)
Indonesia Attack itu adalah sebuah band yang (sama sekali enggak) terkenal di Kochi (Kochi Jepang ya bukan yang India). Band ini terbentuk di sebuah sudut studio terbesar di kampus saya yang namanya Kochi University, yang waktu itu mempunyai kepala suku bernama Katayama Yusuke.
Ohya, disetiap cerita yang gue alami di setiap pertemuan, gue selalu menyukai 'pertemuan'. Dan selama ini sepanjang hidup gue bertemu dengan orang-orang yang gue sayangi, gue selalu memiliki cerita-cerita lucu (dan mungkin engga juga...) sebelum proses saling mengenal. Begini ceritanya:

Sejarah (terbentuknya) Indonesia Attack (dibuat se-dramatis mungkin biar ga kalah kece dari sejarah terbentuknya PBB)

Waktu itu hujan-hujan. Dan gue, seorang anak culun tahun pertama yang lagi nyari-nyari klub oke buat di timbrungin. Beberapa hari sebelumnya, gue sebagai mahasiswa asing dapet mentor orang Jepang, dan si orang Jepang itu menyarankan gue ikutan klub musik dan memberikan gue arahan untuk menghubungi si ketua klub buat join. Akhirnya setelah gue memberanikan diri e-mail, beberapa saat kemudian terdapat jawaban. 
"Selamat datang di Sea Breeze! Nama saya 方山 dan saya adalah ketua klub sini. Kapan bisa ketemuan dan mampir?"

Jujur, pada saat itu gue kebingungan membaca nama dia. Antara Katayama, dan Houyama (inilah keribetan bahasa Jepang--satu hurup berjuta bacanya). Tapi karena Houyama itu terdengar aneh, gue dengan pedenya pun memanggil dia Katayama-san, atau akrabnya, Mas Katayama.
Kembali lagi saat hujan turun, setelah janjian (ciye) sama mas Katayama buat ketemuan di tempat dan waktu yang ditentukan, dia pun datang. Gue dengan payung transparan beli di lawson pun kontan menengok ke arah laki-laki tinggi semampai, brewosan, dan senyum lebar bak baru kejatohan duren. Setelah saling berkenalan, dia pun mengajak gue ke studio yang terletak deket sama lapangan bola. Kesan pada pertemuan pertama, mas Katayama itu ramah dan anaknya selalu berusaha ngajak gue ngobrol bahasa Inggris. Setelah aman dari hujan dan naik ke lantai dua sebuah gedung, tibalah kita berdua di sebuah studio besar yang saat itu jauh lebih mirip bantar gebang. Serius, bo, sampah dimana-mana...
Pada sesi jamming pertama kali, gue dipersilahkan main piano yang ada disana. Beberapa orang yang berkumpul disana ikut mengiringi, dan jelas, yang masuk kesini pun pasti emang pada jagoan musik semua. Salah satunya adalah, seorang gitaris merem-melek yang menjadi gitaris andalan band kita sampai sekarang, yang juga pernah membuat saya jatuh hati dan tanpa sengaja melukai hati saya (LHO KOK INI JADI MELLOW GINI?) 
Wah ngeblog sambil ngedengerin Ari Lasso ngga sehat nih... bawaannya mau ngegalau.........
Iya, singkat cerita (dan masih panjang sih) moment-moment pertama kali gue dan Katayama saling berkenalan dan bertemu dengan orang-orang asing sesama musisi kelas anak kampus pertama kalinya di studio itu ngga pernah hilang dari ingatan gue. Satu bulan dari jamming tersebut, gue yang sama sekali ngga pernah tahu apa nama band kita, siapa aja anggotnya, ternyata dapet undangan buat manggung pertama kali di sebuah live house kecil di bawah tanah di alun-alun kota.
Kita sebagai band yang bikin lagunya aja sehari sebelum manggung, berasa paling culun soalnya ternyata yang manggung saat itu rata-rata orang-orang yang alirannya hardrock dan metal. Nah, band yang genre-nya mellow campur sari cem gue ini ya jelas aja kelelep lah ya...

Penampilan perdana Indonesia Attack pada malam yang sangat metal

Nama Indonesia Attack sendiri sebenernya dicetuskan (duile dicetuskan) sama mas Katayama sendiri yang artinya baru gue ketahui 2 tahun kemudian. Dia bilang, karena gue memiliki aura yang kuat (kirain aura kasih...) sebagai satu2nya orang Indonesia di kerumunan orang Jepang. Tapi 90% Katayama mengklaim bahwa pemberian nama band ini hanya karena iseng semata. Heyaaaa...

Faktua Unik yang (Tidak) Perlu diketahui:
Biasanya kalau ada acara minum-minum bersama (nomikai) dan kalo udah ada yang mulai 'kalap', band ini terkenal karena berubah nama menjadi Indonesian Attack.

salah satu contoh Indonesian Attack (nak, kamu kalo mau ngejajah balik ngga gini juga caranya...)


ANGGOTA INDONESIA ATTACK
Kita semua memang berdomisili di Jepang, tapi bukan berarti kita adalah ninja. Anggotanya juga sama sekali ngga ada yang atraktif (disorakin se-RT). Jujur, lebih kece bangku taman dibedakin kayaknya daripada membernya.

Ini gitaris kita, namanya Koyo Morita. Iya, ngga salah baca, namanya sama kayak plester buat pegel-pegel itu.
dan iya, matanya emang suka ilang kalo lagi ketawa.

Ini drummer kita, Yusuke Katayama alias kepala suku Studio Sea Breeze dan pentolan band ini. Liat aja, kelakuannya.

INI SAYAAA PAS TAHUN PERTAMA. Masih semog. Sexy-montog.

Pemain kontra-bass kita, yang bernama Mika Tsutsui. Yang dimana gue sama sekali ngga begitu paham... siapa orang ini sebenarnya... (but so far, kakak ini emang terkenal sebagai basis cewek paling dewa se-aentaro klub musik)

Semua foto-foto ini diambil pas tahun-tahun pertama kita aktif manggung. Maunya sih gue masukin foto-foto koleksi lainnya cuma bakalan jadi beralbum-album nanti.


Setelah dipikir-pikir sembari menelusuri album digital di macbook, usia Indonesia Attack udah 2 tahun lebih dan akan menginjak usia ke 3 bulan Juli mendatang. Ternyata udah lama juga ya gue menjamur di studio, selama si Koyo juga betah di kampus (btw gue ngga pernah manggil gitaris gue dengan sebutan Koyo, gue punya panggilan istimewa buat dia yaitu Amami. Sejarah kenapa dia disebut Amami sebenernya ada, tapi nanti aja dibahas kapan-kapan :))) ).
Satu tahun setelah kita bersama, kita sudah membuahkan hasil 1 mini album yang waktu itu lumayan banyak juga yang mau beli dan dengerin huahuahua. Kalau mau denger, bisa denger disini dan cari yang namanya Indonesia Attack. Gue cuma upload 3 lagu yang (saat itu) banyak peminatnya.

Banyak yang hal yang udah gue lalui sama band kesayangan gue ini, termasuk keinginan ingin berhenti. Bukan, bukan karena jenuh, tapi gue sempat berpikir band ini ngga akan membawa gue kemana-mana. Well sejak awal pun band ini emang bukan hal yang diseriusin, tapi keinginan gue ingin membawa band ini 'keluar' agak sulit karena terbentur bahasa, cara berpikir, dan kesibukan masing-masing individu (saat itu mas Katayama dan mbak Tsutsui udah tahun terakhir dan lagi sibuk-sibuknya skripsian). Bisa dikatakan, band gue cuma terkenal melalui omongan orang-orang karena vokalisnya itu foreigner dan nama bandnya yang nyentrik. Sejauh ini, masih banyak yang ga gitu bisa ikutin lagu-lagu kita karena semua dinyanyiin pake bahasa Inggris (gue pernah mengajukan kasasi--naon sih bahasa gue-- buat bikin lagu pake bahasa Jepang, tapi ditolak mentah-mentah sama Katayama karena udah susah-susah nemu vokalis orang non-Jepang buat nyanyi lagu pake bahasa lain. Gue tadinya mau bikin pake bahasa Sunda tapi takutnya suporter bola malah dateng...).

Semua masalah kegalauan gue akan 'masa depan' band ini tambah runyem ketika gue ternyata jatuh hati sama si plester jidat itu.

Nah, semua pasti tau lah yang namanya kalo udah menyangkut masalah hati, apalagi, antar band, udeh dah amburadul. Dalang dibalik semua ini sebenernya Katayama yang berusaha menjodohkan gue sama Amami, tapi hasilnya? Ada di sekmen lainnya!

"Ehe... penasaran ya?"

Yaaa intinya mah ngga hepi ending sih (garuk tembok derita).

Setelah beberapa bulan sempet tegang, akhirnya kita memutuskan untuk 'istirahat' sejenak, sampai Maret 2014 lalu kita pun tiba di acara manggung terakhir sebelum upacara kelulusan mas Katayama dan mbak Tsutsui.

moment ini pun menjadi sebuah akhir dari masa gue mengecet rambut gue, dan kembali lagi jadi hitam hauehauheua.


Acara manggung kita yang terakhir pun merupakan moment yang sangat menyenangkan, karena segerombolan band top kampus (dan yang udah cukup dikenal di Kochi) berkumpul di satu panggung lagi menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Para penyanyi-penyanyi yang udah 'pensiun', atau basis dan gitaris yang sudah lama meninggalkan Kochi, atau mungkin seorang penyanyi yang ternyata dulu cuma beking vokal pun bergabung semua. Konser malam itu bener-bener meriah. Ditambah urutan manggungnya aja pake narik undian huahuahua.

Salah satu band yang terbilang cukup baru tapi lumayan ngena, adalah band bernama Shimajikan yang juga dimotori Amami.
Di panggung yang berbeda, terjadi moment haru-biru dimana sang basis yang juga lulus itu tiba-tiba membanting bass-nya dan mewek di panggung. Iya serius. Mewek. Cowok lho. Sangar lho.

"Cep cep cep mas Fujiwara..."

Jujur gue ngeliatnya juga pengen ikutan nangis bawaannya.
Ah... apa jangan-jangan pas lulus begini, gue juga akan merasakan kesedihan yang sama? Atau ternyata malah lempeng aja? Sebenernya yang gue takutkan itu, kalo gue mewek guling-guling saat mengekspresikan kesedihan gue berpisah sama band gue ini, ngga akan ada yang bersedia ngapus air mata gue kayak si Amami itu *forever alone*

Jadi...
Ini masih bagian pertama perkenalan band gue. Sampai ketemu di part 2 ya :)

0 comments:

Post a Comment